Berita Dunia Internasional – India merupakan salah satu negara di kawasan Asia Selatan yang beribukota di New Delhi. Pada bulan April tahun 2018 ini, di India telah terjadi badai dahsyat yang disertai sambaran petir. Sambaran petir ini terjadi sebanyak 36.749 kali yang terjadi selama kurang lebih 13 jam. Badai ini terjadi di negara bagian Andhra Pradesh. Di duga badai dahsyat ini terjadi karena pola cuaca ekstrim yang menjadikan kondisi cuaca menjadi abnormal.

Sambaran petir di India tak hanya terjadi sesekali. Selama musim hujan selalu disertai sambaran petir yang dahsyat dan menakutkan. Biasanya ini terjadi mulai bulan Juni sampai bulan Oktober. Menurut National Crime Records Bureu, sejak dari tahun 2005 banyaknya korban tewas yaitu lebih dari 2 ribu jiwa akibat serangan petir yang terjadi setiap tahunnya. Anda bisa melihat info tentang berita dunia internasional ini di media online matamatapolitik.com.

Kishan Sanku selaku pengelola pusat operasi negara menjelaskan bahwa angin dingin laut arab telah berbenturan dengan hembusan angin hangat India Utara sehingga menghasilkan awan yang lebih banyak yang menyebabkan terjadinya petir meningkat. Ditambah lagi awan menutupi sepanjang 124 mil lebih.

Hal ini menyebabkan kejadian ini sangat unik dan sangat langka. Kishan Sanku juga menyatakan bahwa pihaknya sudah menyadari akan bahaya dari dampak badai tersebut dan berusaha mengikatkan bahaya ini pada seluruh lapisan masyarakat melalui layanan pesan telegram maupun via WhatApp serta menghimbau masyarakat agar tetap berada di dalam rumah melalui siaran radio dan televisi. Selain itu, juga ada ada peringatan bagi pengguna telepon seluler.

Badai dahsyat disertai ribuan sambaran petir menjadi Berita Dunia Internasional yang membuat masyarakat kaget. Badai dahsyat ini mengakibatkan sembilan jiwa meninggal dunia karena tersambar petir. Kebanyakan korban jiwa akibat serangan petir adalah orang yang bekerja diluar rumah. Selain memakan sembilan korban jiwa, badai petir ini juga melukai beberapa orang yang bekerja diladang.

Meskipun sebelumnya sudah ada peringatan agar tidak keluar rumah tetapi kebanyakan masyarakat tidak mengetahuinya karena sudah berada diluar rumah ketika peringatan tersebut disebarluaskan. Karena kurangnya sistem peringatan ini terjadi banyak korban baik korban tewas maupun korban luka-luka. Kishan Sanku mengatakan “Kami tidak bisa menghimbau orang yang sedang bekerja diladang karena mereka tidak membawa telepon seluler”. Untuk berita internasional yang terjadi di seluruh belahan dunia anda bisa mengintip di media online matamatapolitik.com.